Ada celotehan yang mengatakan, “KALO BAPAKNYA KOLONEL, BININYA JENDERAL”.
Faktanya adalah, masih banyak budaya buruk dilingkungan pegawai negeri, pulisi, tentara, pejabat negara lainnya, dimana yang mempunyai peran besar dalam mengelola organisasi, terutama terkait dengan sumber daya manusia adalah bini-bininya si pejabat. Kenapa bisa begitu?
Ini seperti penyakit turun temurun. Biasanya, bini yang punya peranan strategis adalah anak dari pejabat negara, pulisi atau tentara yang mempunyai kedudukan cukup strategis. Strategis disini, kita ibaratkan adalah “malaikat maut”, seolah-olah hidup dan matinya seorang bawahan ada di tangan sang pejabat. Kenapa bini yang kayak gini bisa punya peranan?
Beberapa wejangan dari senior salah satunya adalah, carilah istri yang bisa menunjang karirmu. Penjabarannya kebanyakan adalah mencari istri yang bapak-bapaknya mempunyai jabatan “malaikat maut”, jadi alih-alih kawin dengan perempuan, sebenarnya yang dikawin itu adalah jabatan calon mertuanya. Kita taulah, orang jadi pegawai negeri itu alasannya adalah, tidak mempunyai biaya untuk kuliah tinggi-tinggi. Atau melanjutkan klan yang sudah dibangun turun temurun, kalo bapaknya pegawai negeri dan “enak” ya… ke”enak”annya diturunkan sama anak donk….
Kalo memang alasannya adalah tidak mempunyai biaya untuk kuliah tinggi-tinggi, jelas donk, secara ekonomi si pegawai ini berasal dari keturunan yang tidak mampu. Sehingga yang harus dicari cara untuk meroketkan karir. Yang paling gampang adalah dengan mencari bibit, bebet, dan bobot yang mendukung karir donk.
Cara yang banyak dilakukan oleh pegawai negeri dari kalangan kere ini adalah :
1. Cari Mertua sang “malaikat maut”
ini jelas, langsung pada central kekuasaan, dimana kau mau ditempatkan, jabatan apa yang kau mau, tinggal bilang sama bini, biarkan binimu yang mengurus semuanya. Atau binimu sudah punya inisiatif yang luar biasa sehingga kau tinggal menyiapkan “barang”mu saja.
2. Cari Mertua temennya sang “malaikat maut”
ini tidak langsung ke center kekuasaan, tapi harus sedikit berputar, tapi putarannya gak jauh koq, syaratnya, sitemennya ini (yang mau dijadiin calon mertua) harus punya duit banyak, dan dia memang menjadi donatur tetap dari sang “malaikat maut”. dan tentunya bukan cuma satu “malaikat maut”, karena siapa tau “malaikat maut” satu habis umur, bisa cari “malaikat maut” yang lain…
Apakah akibat dari memiliki bini seperti ini :
1. Hidup terbelenggu
Jelas, hidup sipegawai sudah terbeli sama bininya, karena hutang budi atas karir yang sudah diraih dari bantuan si bini
2. Tidak independen
Karena terbelenggu, sehigga semua keputusannnya menjadi tidak independen, sangat dipengaruhi oleh si bini.
3. Merusak kinerja
Bagaimana tidak, pekerjaan diambil alih oleh orang yang tidak punya keahlian sama sekali yaitu bini.
4. Mengacaukan stabilitas negara
Ketika karir mulai meningkat, pengaruh sang bini pun semakin tinggi pula.
5. Mengabaikan kepentingan rakyat
Si pegawai akhirnya gak lagi mikirin rakyat, karena harus mikirin sasak bininya supaya tetep tinggi menjulang
26 Jan 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar